Lembang – Dalam inisiatif yang patut dipuji untuk menumbuhkan kepemimpinan, empati, dan cinta terhadap pendidikan, siswa-siswa DHIS Secondary Lembang baru-baru ini berpartisipasi dalam program “Secondary Mengajar” — sebuah kegiatan khusus di mana siswa tingkat menengah berperan sebagai guru di sekolah dasar setempat.
Program ini dirancang untuk melatih keterampilan sosial dan kepemimpinan siswa dengan memberikan mereka pengalaman mengajar di dunia nyata. Melalui keterlibatan langsung ini, siswa belajar untuk berkomunikasi secara efektif, mengelola kelas, dan memahami tantangan serta kebahagiaan menjadi seorang pendidik.
Lebih dari sekadar latihan akademis, “Sekolah Menengah Mengajar” menekankan pengembangan karakter. Dengan berinteraksi dengan siswa yang lebih muda, peserta sekolah menengah didorong untuk membangun empati dan simpati, memahami kebutuhan, emosi, dan gaya belajar anak-anak yang mereka ajar. Pengalaman ini membina rasa tanggung jawab dan kedewasaan saat mereka mengambil peran sebagai teladan dan mentor.
"Tujuan kami adalah mempersiapkan siswa tidak hanya secara akademis, tetapi juga secara sosial dan emosional," kata salah satu koordinator program. "Dengan mengajarkan orang lain, mereka memperoleh apresiasi yang lebih mendalam terhadap nilai pendidikan dan usaha yang diperlukan untuk mencapainya."
Sepanjang hari, siswa-siswa tingkat menengah memimpin pelajaran yang menarik, sesi bercerita, permainan edukatif, dan aktivitas kelompok. Siswa yang lebih muda merespons dengan antusias, dan energi di dalam kelas mencerminkan rasa semangat dan saling menghargai yang sama.
Seorang siswa sekolah menengah berbagi, “Awalnya saya merasa gugup, tetapi setelah beberapa menit, saya menyadari betapa menyenangkannya dan bermaknanya mengajar. Saya sekarang mengerti seberapa besar perhatian dan usaha yang diberikan guru untuk siswa-siswinya.”
“Sekolah Menengah Mengajar” lebih dari sekadar aktivitas sekolah — ini adalah pengalaman yang mengubah kehidupan yang memungkinkan siswa tumbuh menjadi individu yang penyayang, percaya diri, dan sadar sosial, sambil menginspirasi generasi berikutnya untuk mencintai pembelajaran.
Inisiatif ini merupakan contoh yang kuat tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan dua arah — di mana baik guru maupun siswa berkembang bersama.